Puskesmas Jambesari Raih Penghargaan Terbaik 1 Penemuan Penyakit Menular Sesuai Standar
Mumbai
Ahmedabad
Foto: Kepala Dinas Kesehatan Bondowoso dr. M. Jasin (tengah) bersama Kepala Puskesmas Jambesari drg. Noeri Rustianti (kiri) dan jajaran saat menerima penghargaan penemuan penyakit menular sesuai standar
Bondowoso/Arussatu.id. Puskesmas Jambesari memperoleh penghargaan Terbaik 1 atas capaian penemuan penyakit menular sesuai standar. Penghargaan tersebut diberikan dalam kegiatan Rapat Koordinasi Program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Rakor P2P) bersama seluruh puskesmas di Kabupaten Bondowoso yang digelar di Hotel Grand Padis Bondowoso, Rabu (16/9/2026).
Kepala Puskesmas Jambesari, drg. Noeri Rustianti, mengatakan penghargaan tersebut merupakan hasil kerja bersama seluruh penanggung jawab dan pelaksana program di Puskesmas Jambesari.
“Terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh penanggung jawab program dan seluruh pelaksana program di Puskesmas Jambesari. Atas kerja keras dan kerja cerdasnya sehingga bisa memberikan prestasi, khususnya dalam penemuan penyakit menular sesuai standar,” ujar drg. Noeri.
Menurut dia, penemuan penyakit menular sesuai standar merupakan bagian dari pelayanan pengendalian penyakit menular yang memiliki regulasi dan menjadi bagian dari Standar Pelayanan Minimal (SPM).
Dalam pelaksanaannya, Puskesmas Jambesari menggunakan sejumlah pendekatan untuk menemukan kasus penyakit menular. Salah satunya melalui metode pasif, yakni pemeriksaan terhadap masyarakat yang datang langsung ke puskesmas.
“Kalau pasien datang ke puskesmas, kemudian kita lakukan screening, pemeriksaan, dan pengobatan lanjutan,” katanya.
Selain metode pasif, petugas juga melakukan penemuan kasus secara aktif dengan turun langsung ke wilayah. Kegiatan tersebut dilakukan melalui investigasi kontak dan tracing terhadap kasus penyakit menular yang ditemukan.
drg. Noeri mencontohkan penanganan penyakit tuberkulosis (TB). Ketika ditemukan satu pasien yang menderita TB, petugas tidak berhenti pada pemeriksaan pasien tersebut, tetapi dilanjutkan dengan investigasi terhadap orang-orang yang melakukan kontak erat dengan pasien.
“Ketika ada yang menderita penyakit TB, kami melakukan investigasi kontak kepada kontak erat di wilayah tersebut,” ujarnya.
Menurut drg. Noeri, semakin luas penjaringan yang dilakukan, peluang menemukan kasus penyakit menular juga semakin besar. Setelah kasus ditemukan, pasien kemudian menjalani pemeriksaan klinis, pemeriksaan laboratorium, hingga mendapatkan penatalaksanaan sesuai kondisi penyakitnya.
Puskesmas Jambesari juga didukung fasilitas pemeriksaan laboratorium untuk membantu mempercepat proses diagnosis. Salah satunya berupa alat Tes Cepat Molekuler (TCM) yang dapat digunakan dalam pemeriksaan penyakit TB.
“Untuk penyakit TB kami memiliki alat TCM. Jadi pemeriksaannya bisa langsung dilakukan di puskesmas tanpa harus merujuk ke fasilitas lain,” kata drg. Noeri.
Selain TB, Puskesmas Jambesari juga memiliki pelayanan terkait HIV. Fasilitas tersebut mendukung proses pemeriksaan dan penanganan pasien sehingga pelayanan dapat dilakukan secara lebih dekat dengan masyarakat.
drg. Noeri mengatakan kasus penyakit menular yang menjadi perhatian dalam program antara lain TB dan HIV. Kasus yang ditemukan berasal dari kelompok usia yang beragam, meskipun sebagian berada pada rentang usia produktif, sekitar 18 hingga 45 tahun dan dapat pula mencapai usia 50 tahun.
Setelah ditemukan kasus, penanganan tidak hanya diberikan kepada pasien. Petugas juga melakukan investigasi kontak terhadap keluarga atau lingkungan terdekat untuk mencegah penularan lebih lanjut.
“Karena penyakit menular dalam satu komunitas, perlu kita lakukan investigasi,” ujarnya. (Eko)
Tags:
Puskesmas Jambesari