Di Balik Tradisi Sholawat PR 88, Ada Jejak Keluarga Membangun Pendidikan Keagamaan
Mumbai
Ahmedabad
Foto: Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf (Kiri) bersama Pemilik PR 88, H. Rahmat saat menuju acara Sholawat
Bondowoso/Arussatu.id. Tradisi sholawat dan haul para masyayikh yang digelar PR 88 di Desa Kemuning, Kecamatan Tamanan, Bondowoso, tidak hanya menjadi agenda keagamaan tahunan. Di balik kegiatan tersebut terdapat jejak keluarga yang sejak awal mengembangkan usaha tembakau sekaligus membangun pendidikan keagamaan.
Tradisi itu kembali digelar pada Sabtu (26/9/2026) malam. Memasuki tahun keenam, kegiatan tersebut menghadirkan Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf bersama sejumlah habaib untuk memimpin majelis sholawat dan memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.
Perwakilan keluarga besar PR 88, KH Muhammad Hasyim Husnan, mengatakan kegiatan keagamaan tersebut memiliki keterkaitan dengan sejarah keluarga pemilik usaha. Menurut dia, aktivitas usaha dan pendidikan keagamaan telah berjalan beriringan sejak generasi sebelumnya.
Ia menyebut Haji Sarkowi, kakek Haji Rahmat selaku pemilik PR 88, tidak hanya mendirikan usaha tembakau. Pada masa itu, keluarga juga membangun madrasah yang kemudian berkembang dengan keberadaan pesantren di sekitar lokasi kegiatan.
“Bapak Haji Sarkowi, kakeknya Pak Haji Rahmat, ini memang mendirikan usaha tembakau juga mendirikan madrasah hingga hari ini dengan pesantren yang ada di belakang panggung ini,” kata KH Muhammad Hasyim Husnan.
Jejak tersebut, kata dia, menjadi salah satu alasan kegiatan keagamaan terus dipertahankan oleh keluarga besar PR 88. Majelis sholawat dan haul para masyayikh kemudian menjadi salah satu kegiatan yang secara rutin digelar setiap tahun.
Menurut KH Muhammad Hasyim Husnan, kegiatan tersebut tidak tepat jika hanya dipandang sebagai agenda tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR. Ia menilai kegiatan keagamaan sudah menjadi bagian dari perjalanan keluarga dan PR 88.
“Ini bukan sekadar acara CSR-nya PR 88, tetapi acara keagamaan bagi PR 88. Itu adalah satu kesatuan,” ujarnya.
Karena itu, keberlanjutan kegiatan sholawat tidak hanya berkaitan dengan pelaksanaan acara. Tradisi tersebut juga menjadi upaya keluarga untuk mempertahankan hubungan dengan pendidikan agama dan para ulama yang telah menjadi bagian dari perjalanan keluarga.
Kegiatan tahun ini juga mempertemukan keluarga besar PR 88 dengan para ulama, habaib, pejabat pemerintah, serta masyarakat. Kehadiran Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf menjadi bagian utama dalam majelis sholawat yang digelar di lingkungan PR 88.
KH Muhammad Hasyim Husnan berharap majelis tersebut dapat terus digelar pada tahun-tahun berikutnya. Ia mengatakan kegiatan itu diharapkan memberikan keberkahan bagi keluarga, PR 88, pesantren, serta masyarakat yang ikut dalam majelis.
“Karena itu adalah bagian untuk bukan sekadar acaranya PR 88, tapi acara kita bersama,” katanya.
Sementara itu, Habib Muhammad bin Husein bin Anis Al Habsyi dalam tausiyahnya mengingatkan jamaah agar menjadikan majelis sholawat sebagai momentum untuk kembali mempelajari kehidupan Nabi Muhammad SAW.
Menurut dia, masyarakat saat ini menghadapi banyak konten dari media sosial dan berbagai platform informasi. Kondisi tersebut membuat umat perlu memiliki pegangan dalam memilih keteladanan, salah satunya dengan mempelajari akhlak Rasulullah SAW.
Habib Muhammad mencontohkan akhlak Nabi Muhammad SAW yang senantiasa menyapa dan mengayomi berbagai kalangan. Rasulullah juga disebut memberikan perhatian kepada anak-anak dan membantu orang-orang yang membutuhkan.
Selain meneladani akhlak Rasulullah, Habib Muhammad mengajak jamaah memperbanyak sholawat. Ia juga mengingatkan pentingnya membiasakan diri mendoakan orang lain dengan kebaikan.
Bagi keluarga besar PR 88, keberadaan tradisi sholawat tersebut menjadi bagian dari kesinambungan sejarah keluarga. Usaha tembakau, madrasah, pesantren dan kegiatan keagamaan berada dalam satu rangkaian perjalanan yang terus dirawat hingga generasi sekarang.
Memasuki tahun keenam pelaksanaannya, majelis sholawat dan haul para masyayikh itu kembali menjadi ruang untuk mempertemukan tradisi keluarga dengan kegiatan keagamaan. PR 88 berharap tradisi tersebut dapat terus berlangsung dan memberi manfaat bagi masyarakat di sekitarnya. (*)